Saturday, January 28, 2017

Sekilas Tentang TOF (Training Of Facilitaor)



ALUR TRAINING OF FACILITATOR (TOF)
I.           KONTRAK BELAJAR/ NEED ASSECEMENT
1.       Tujuan mengikuti TOF
2.       Harapan mengikuti TOF
3.       Yang harus dilakukan dalam TOF
4.       Yang tidak boleh dilakukan dalam TOF
5.       Sanksi atas pelanggaran dalam TOF
6.       Idealitas pelatihan (materi & waktu) TOF
II.         PENJELASAN RUMUSAN GAMBARAN UMUM TOF
1.       Materi Pokok TOF
2.       Formulasi Materi Pelatihan
3.       Formulasi Grand Design Pelatihan
4.       Perumusan Mekanisme & Metodologi Forum Tentatif
III.       PENJELASAN RUMUSAN GRAND DESIGN PELATIHAN
1.       Landasan Epistemologis
2.       Target Kualitatif
3.       Parameter Keberhasilan
IV.       PRESENTASI MATERI TEHNIK FASILITASI
1.       Hand-Out 01: Gagasan Dasar Fasilitator Transformatif
2.       Hand-Out 02: Metodologi Pembelajaran Trasformatif
3.       Hand-Out 03: Metodologi Pelatihan Transformatif
4.       Hand-Out 04: Fasilitator: Peranan, Fungsi & Teknik Komunikasi
5.       Hand-Out 05: Generasi Teknik Fasilitasi Experiential Learning
6.       Hand-Out 06: Proses & Mekanisme Pelatihan Partisipatif
7.       Hand-Out 07: Metodologi Pelatihan Partisipatif
8.       Hand-Out 08: Memfasilitasi Pelatihan Partisipatif
9.       Hand-Out 09: Metode Pembelajaran/ Pendampingan
V.         PERUMUSAN MATERI PELATIHAN—BERANGKAT DARI RUMUSAN: Landasan Epistemologis Pelatihan, Target Kualitatif & Parameter Kebehasilan
1.       Materi Dasar Ke-PMII-an
2.       Materi Dasar Wacana
3.       Materi Dasar Skill Organisasi
VI.       PRESENTASI DAN DISKUSI FASILITATOR SELURUH MATERI PELATIHAN
1.       Materi
2.       Kisi-kisi Materi
3.       Target Konstruksi Berfikir
4.       Metode Pembelajaran
5.       Alat dan Bahan yang dibutuhkan
6.       Referensi Primer
7.       Hand-Out Materi
8.       Metodologi FGD
VII.     PEMBAGIAN KELOMPOK PESERTA & FASILITATOR
1.       Ir. Soekarno                       (Peserta Max. 10/ Fasilitator 2)
2.       Muhammad Hatta               (Peserta Max. 10/ Fasilitator 2)
3.       Hasyin Asy’ari                   (Peserta Max. 10/ Fasilitator 2)
4.       Tan Malaka                         (Peserta Max. 10/ Fasilitator 2)
VIII.   INVENTARISASI TUGAS FASILITATOR
1.       Key Note Speaker + Pendampingan Session Besar
2.       Focus Group Discussion (FGD)
3.       Apel Pagi dan Apel Sore + Pembakaran Heroisme
4.       Ice Breaker + Out-Bound
5.       Prosesi Bai’at
6.       Strategic Planning + Stratak + Pembentukan Korp
7.       Proses Pendampingan Pasca Pelatihan
IX.       INVENTARISASI KEBUTUHAN LOGISTIK FASILITATOR
1.       Plano + Spidol + Lakban
2.       Lembar Cerita + Bagan Analisis
3.       Peralatan Permainan
X.         PERUMUSAN DESAIN FORUM TENTATIF PELATIHAN
1.       Waktu Materi Pelatihan
2.       Penentukan Materi Pelatihan Session Besar
3.       Penentuan Jenis FGD
4.       Penentuan Metodologi & Mekanisme Forum
XI.       INVENTARISASI JUMLAH FORUM PELATIHAN
1.       Opening Ceremony            : ______ Forum
2.       Perkenalan                         : ______ Forum
3.       Kontrak Belajar                  : ______ Forum
4.       Session Besar                    : ______ Forum
5.       FGD                                   : ______ Forum
6.       Apel Pagi                           : ______ Forum
7.       Apel Sore                           : ______ Forum
8.       Forum Evaluasi Fas.          : ______ Forum
9.       Energizer                           : ______ Forum
10.         Out Bond                           : ______ Forum
11.         Prosesi Baiat                     : ______ Forum
12.         Evaluasi Peserta                : ______ Forum
13.         Pembentukan Korp            : ______ Forum
14.         RTL                                    : ______ Forum
15.         Closing Ceremony             : ______ Forum
XII.              INVENTARISASI METODOLOGI DAN MEKANISME FORUM
1.       Materi Session Besar
2.       Metodologi Forum Session Besar
3.       Focus Group Discussion (FGD) Materi Session Besar
4.       Focus Group Discussion (FGD)
5.       Pembicara/ Pemantik Diskusi
6.       Key Note Speaker/ PJ
XIII.   PENJELASAN METODOLOGI DAN MEKANISME FGD
1.       Metodologi FGD
2.       Media yang dibutuhkan
3.       Waktu FGD
4.       Langkah-langkah FGD
5.       Kontrak Belajar + Need Assecemet + Analisis Diri + FGD Materi-materi Pelatihan
XIV.  STRATEGIC PLANNING+STRATAK-SCENARIO PLANNING
1.       Apa yang harus dilakukan selama beraktifitas diorganisasi.
2.       Apa kendala yang terjadi didalam organisasi.
3.       Bagaimana cara mengatasi kendala tersebut.
4.       Tentukan visi dan misi bersama untuk mencapai tujuan.
5.       Tentukan langkah praksis untuk mencapai visi dan misi.
XV.    PROSESI BAIAT
1.       Pos I          : Perenungan, analisis dan refleksi diri
2.       Pos II         : Penggemblengan mental
3.       Pos III        : Kontrak sosial ideologis militansi kader
4.       Pos IV        : Prosesi inti pembai’atan
XVI.           LANGKAH-LANGKAH MEMANDU OUT-BOUND, GAME, ENERGIZER & ICE BREAKER
1.       Jenis Out-Bound, Game, Energizer & Ice Breaker
2.       Fokus Utama                     
3.       Tujuan                              
4.       Jumlah peserta     
5.       Waktu                                
6.       Bahan                               
7.       Tempat                              
XVII.         SIMULASI OUT-BOUND, GAME, ENERGIZER & ICE BREAKER
1.       In-Door
2.       Out-Door


REFRAMING ALUR TRAINING OF FASILITATOR (TOF)

I.                    KONTRAK BELAJAR/ NEED ASSECEMENT
II.                  PENJELASAN RUMUSAN GAMBARAN UMUM TOF
III.                PENJELASAN RUMUSAN GRAND DESIGN PELATIHAN
IV.                PRESENTASI MATERI TEHNIK FASILITASI
V.                  PERUMUSAN MATERI PELATIHAN—BERANGKAT DARI RUMUSAN: LANDASAN EPISTEMOLOGIS PELATIHAN, TARGET KUALITATIF DAN PARAMETER KEBEHASILAN
VI.                PRESENTASI DAN DISKUSI FASILITATOR SELURUH MATERI PELATIHAN
VII.              PEMBAGIAN KELOMPOK PESERTA & FASILITATOR
VIII.            INVENTARISASI TUGAS FASILITATOR
IX.                INVENTARISASI KEBUTUHAN LOGISTIK FASILITATOR
X.                  PERUMUSAN DESAIN FORUM TENTATIF PELATIHAN
XI.                INVENTARISASI JUMLAH FORUM PELATIHAN
XII.              INVENTARISASI METODOLOGI DAN MEKANISME FORUM
XIII.            PENJELASAN METODOLOGI DAN MEKANISME FGD
XIV.           STRATEGIC PLANNING+STRATAK+SCENARIO PLANNING
XV.             PROSESI BAIAT
XVI.           LANGKAH-LANGKAH MEMANDU OUT-BOUND, GAME, ENERGIZER & ICE BREAKER      
XVII.         SIMULASI OUT-BOUND, GAME, ENERGIZER & ICE BREAKER

REFRAMING ALUR PELATIHAN KADER DASAR (PKD)

I.              OPENING CEREMONY
II.            KONTRAK BELAJAR + NEED ASSECEMENT
III.          ANALISIS DIRI
IV.          MATERI SESSION BESAR
V.            FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)
VI.          PEMBAKARAN HEROISME
VII.        APEL PAGI DAN SORE
VIII.      PROSESI BAI’AT
IX.          STRATEGIC PLANNING + STRATAK
X.            FORUM EVALUASI FASILITATOR
XI.          PEMBENTUKAN KORP
XII.        CLOSING CEREMONY
XIII.      PROSES PENDAMPINGAN PASCA PELATIHAN

Monday, February 17, 2014

PROFIL DINO PATTI DJALAL

Dr Dino Patti Djalal dilahirkan dalam sebuah keluarga diplomatik pada 10 September 1965 di Beograd,Yugoslavia, anak kedua dari 3. Bersaudara. Pengalaman lahir di negara yang tidak lagi ada (Yugoslavia) berfungsi untuk mengingatkan dia tentang pentingnya tertinggi mempertahankan persatuan nasional untuk multi-budaya Indonesia. Ayahnya, Profesor Hasjim Djalal, adalah Duta Besar Indonesia untuk Kanada dan Jerman, dan pakar internasional tentang hukum laut. Hasjim Djalal adalah tokoh kunci dalam "kepulauan konsep", inovasi hukum di wilayah laut yang secara dramatis - dan damai - dikalikan wilayah kedaulatan teritorial Indonesia. Konsep kepulauan, ditolak dan ditentang oleh kekuatan maritim ketika diumumkan oleh Indonesia pada tahun 1957, sekarang merupakan bagian dari hukum internasional dan didukung sepenuhnya oleh Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Meskipun lahir dan hidup lama di negeri orang, beliau tidak pernah lupa dengan asal muasalnya sebagai orang Indonesia, bahkan disaat semua orang mulai lupa dengan budayanya sendiri, beliau justru ikut memperkenalkan budaya kita di Amerika serikat. Banyak sekali upaya beliau dalam mensosialisasikan budauya kita disana salah satunya dengan dilaksanakan American Batik Competition (ABCD) pada tahun 2011, yaitu kompetisi dersain batik yang diadakan di Amerika Serikat.
DR Dino mengajak bangsa Indonesia menerapkan nasionalisme unggul dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di sekolah, di kantor dan di negara. Kare di era abad ke021 ini tak cukup kita hanya merdeka dan berdaulat saja akan tetapi kita harus menjadi pribadi yang unggul baik di luar maupun di dalam. Dia juga selalu mengingatkan Indonesia bahwa mereka kini memiliki kemewahan strategis untuk hidup di dunia dimana satu negara tidak menganggap Indonesia sebagai musuh dan sebaliknya tidak ada negara dianggap oleh Indonesia sebagai musuh. Hal ini menyajikan kesempatan langka untuk membuat seluruh dunia untuk menjadi pro-Indonesia, dan bahwa anti-barat atau xenophobia dilihat masih dipegang oleh beberapa kalangan hanya menimbulkan kehilangan peluang yang membahayakan kepentingan nasional. Ia juga mendorong para pemuda untuk kreatif memeluk - bukan menghindari - globalisasi, yang ia gambarkan sebagai kekuatan terbesar abad ke-21, sama seperti Indonesia berhasil merangkul nasionalisme sebagai kekuatan terbesar abad ke-20.
Dalam birokrasi, Dr Dino telah terus-menerus menganjurkan tentang perlunya pejabat dan pengamat untuk membunuh dengan teori-teori konspirasi yang berlebihan dan mentalitas pengepungan, dan untuk berani menyempurnakan pandangan mereka atas munculnya realitas dunia baru yang berani. Fase kesukaannya, salah satu poin yang tanpa kenal lelah, adalah: "Hari ini, Indonesia adalah negara yang berbeda di tempat yang berbeda di dunia yang berbeda".

Untuk mempromosikan nasionalisme yang sehat, Dino juga telah menghasilkan beberapa klip video yang menampilkan band-band populer Cokelat dan Samsons, yang menggambarkan kegiatan Indonesia pasukan penjaga perdamaian di Libanon. Dr Dino Djalal adalah pendiri Modernisator - sebuah gerakan seperti yang berpikiran reformis progresif dan pemimpin muda yang memeluk slogan "layanan, inovasi, kesempurnaan, keterbukaan, konektivitas".
Perhatian beliau pada generasi muda juga patut kita apresiasi, karena beliau sering memberikan motivasi pada pemuda baik di Indonesia ataupun di luar negeri. Salah satu bentuknya adalah beliau menjadi narasumber dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda secara Live streaming melalui Youtube.
Harapan saya dengan adanya aset Indonesia dengan memiliki DR Dino Patti Djalal ini bisa merubah Indonesia menjadi Indonesia yang ke depan lebih baik dan sesuai dengan cita-cita bangsa.

Demikian sekilas tentang Bapak Dino Patti Djalal, semoga dengan kembalinya beliau ke Indonesia bisa menjadikan tanah air yang kita cintai menjadi negara yang diidam-idamkan oleh rakyat Indonesia.

Sunday, January 26, 2014

Artikel Pemuda



MENJADI GENERASI CERDAS DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN
Seorang dikatakan pemuda jika ia berumur 10-24 tahun. Ketika kita mendengar istilah pemuda, hal yang terbesit dalam benak adalah sebuah semangat yang membara, optimisme yang menggebu-gebu, penuh dengan hal-hal yang pantang menyerah. Pemuda merupakan sosok yang sangat berperan dalam keberlangsungan suatu kehidupan. Setiap orang yang tua pasti pernah mengalami muda. Kita tengok sejarah sejenak, kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 tak luput dari peran serta pemuda dimana kiprah pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangatlah luar biasa dengan semangat pantang menyerah, mereka mampu membawa Indonesia merdeka dari penjajah, pemuda pula yang merencanakan dengan segera untuk memproklamasikan diri, agar dunia tahu bahwa Indonesia adalah negara yang merdeka.
Seiring berkembangnya waktu era modernitas telah mengubah pola hidup pemuda menjadi hidup yang hedonis dan ala korea maupun kebarat-baratan. Para pemuda lebih suka menghabiskan waktu dengan memanjakan diri dengan mengikuti kebudayaan korea dan barat. Mereka menyukai obrolan tentang hormonai, minum-minuman keras, narkoba dan sebagainya. Betapa para pejuang kemerdekaan menangis dengan keadaan deminikian karena mereka telah berjuang sekuat tenaga, harta dan nyawa untuk memerdekaan negara, dan kita senagai generasi penerus tidak mensyukuri dan mengisi dengan hal-hal yang positif. Menjadikan indonesia yang sesuai dengan cita-cita leluhur dan sesuai dengan tujuan awal Indonesia didirikan.
Oleh sebab itu, sebagai pemuda sekaligus generasi bangsa indonesia kita harus cerdas dalam menghadapi gejolak zaman yang jika tidak berhati-hati akan menhancurkan diri. Kita harus membangun pondasi yang pertama, dengan agama, karena tak satupun agama yang mengajarkan keburukan. Sebagai negara pluralitas ada 6 agama di Indonesia tapi semua agama itu selalu mengajarkan dengan kebaikan. Apapun agama anda bentengilah diri dengan agama, dengan begitu kita akan menjadi manusia yang berkarakter terpuji. Setiap manusia yang dilahirkan dibumi merupakan suatu anugerah dari Tuhan, jadi jangan sia-siakan dengan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, tapi dengan hidup ini bagaimana kita bisa berarti dan berguna untuk orang lain. Kedua,pendidikan dalam lingkunagn keluarga adalah pendidikan yang pertama dijalani oleh manusia, jadi sebagai orang tua harus bisa menjadi figur yang baik bagi anaknya dan menjadi pendidik terbaik dalam kehidupan seorang anak. Pendidikan merupakan hal yang diwajibkan di negara Indonesia. Indonesia mewajibkan 9 tahun pendididikan, hal inilah sebagai pemuda untuk berinteraksi denganorang-orang sekitar dengan budi yang terpuji pula. Pendidikan indonesia yang selalu berubah-ubah kurikulum dengan maksud menyesuaikan pola pendidikan yang bisa menjadikan insan sesuai dengan cita-cita bangsa. Kenyataan yang ada belum terwujud juga, hal ini patut kita tarik garis benag merah sebenarnya apa yang salah dari pola pendidikan di Indonesia, sehingga belum mampu menciptakan kader-kader bangsa yang menjadikan Indonesia makmur dan sejahtera. Pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi belum mampu menelurkan insan yang berkualitas untuk membangun Indonesia. Pendidikan yang ada di Indonesia kurang merata ke seluruh pelosaok nusantara, mungkij itulah salah satu penyebab bahwa pendidikan di Indonesia belum mampu menciptakan insan yang berkompeten dalam menghadapi tantangan zaman. Ketiga, sebagai generasi muda, haruslah melek realita. Harus tahu kebutuhan bangsa, tidak hanya memandang sebelah mata dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Kepekaan dalam mengamati kondisi di lingkungan sekitar haruslah dimiliki para pemuda. Jangan sampai sebagai pemuda kita tak berbuat apa-apa padahal di daerah sekeliling kita butuh bantuan kita. Melakukan hal-hal yang positif merupakan hal yang harus di tanamkan pada benak pemuda agar kedepannya bisa menjadi generasi bangsa yang bisa menjadikan bangsa menjadi aman, makmur dan sejahtera. Di dalam negara yang berkembang ini peran pemuda sangat dibutuhkan.
Menjadi generasi bangsa yang berkualitas dan berkarakter perlu adanya upaya dan dukungan dari berbagai pihak, baik dari pihak keluarga, masyarakat maupun pemerintah. Keluarga sebagai pondasi pembentukan karakter manusia harus mampu menanamkan hal-hal yang positif. Lingkungan masyarakat juga harus mendukung dalam perkembangan seseorang, lingkungan yang baik akan membawa ke arah baik, dan jika lingkungan yang buruk akan membawa ke arah buruk juga. Peran pemerintah dalam mengayomi para pemuda juga sangat diharapkan demi terciptanya generasi unggul.